Penulis
selalu ingat, dua hari menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada
17 Agustus adalah Hari Jadi Kabupaten Bekasi (15/8). Melihat Plaza Pemerintahan
Daerah (Pemda) yang tampak sibuk dengan tenda bernuansa merah-putih,
bendera-bendera berwarna, Adik-adik SMA yang menjadi Pasukan Pengibar Bendera
(Paskibra) berlatih untuk Peringatan Hari Kemerdekaan, hingga acara-acara
non-seremonial memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Bekasi dan Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia.
Kabupaten
Bekasi adalah satu dari beberapa Kabupaten-Kota yang letaknya berdekatan dengan
Ibukota Jakarta. Sehingga, Bekasi memiliki ‘Bonus
Demografis’. Hal ini memiliki arti
bahwa Bekasi diuntungkan menjadi kota penunjang (satelit) bagi Ibukota Jakarta.
Selain itu, dampak kausal ‘bonus’
lokasi Bekasi menyebabkan terjadinya perpindahan arus perekonomian maupun
industri dari Jakarta ke Bekasi. Tak ayal, hal ini menyebabkan Bekasi
berkembang dari wilayahnya yang sepenuhnya agraris menjadi industri. Sebut
saja, Kawasan Industri MM2100, EJIP, Jababeka, Hyundai, Greenland, maupun Pabrik-pabrik yang
tidak berlokasi di kawasan-kawasan industri tersebut.
Berkembangnya
kawasan Industri di Kabupaten Bekasi memberikan dampak. Dampak ini dirasakan
pula secara fisik maupun psikis oleh para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).
Bagi mereka, Bekasi bukan hanya sekedar tempat lahir, maupun tempat tinggal. Bekasi
menjadi tempat mereka bermain, belajar dan mencari jati diri. Sebagai generasi penerus
bangsa, khususnya Bekasi.
Siswa
SMA yang notabene adalah remaja merupakan pewaris negeri, pemegang tahta bangsa
ini. Sehingga, dikenal konsep cita-cita generasi emas 2045. Hal ini bukan hanya
sebuah jargon, tetapi juga cita-cita agar remaja kini dapat mewarisi negeri ini
dengan kemampuan yang mendunia, namun tidak melupakan asalnya.
Remaja
Bekasi pun sudah semestinya menjawab tantangan untuk bersiap menjadi generasi
emas 2045. Salah satu cara adalah berpartisipasi membangun Bekasi dengan
aktivitas positif, belajar aktif, hingga memiliki kepekaan social. Untuk
mengetahui hal tersebut, Penulis pun tergelitik untuk menanyakan kepada Zikra
Mulia Irawati (18 tahun), yang akrab dipanggil Zikra seorang remaja tentang Bekasi,
tempat tinggalnya.
Mengapa Bekasi menarik untuk kamu? Bekasi
itu menariknya karena banyak pabrik, jadi banyak lapangan pekerjaan. Fasilitas
lumayan lengkap, transportasi lengkap. Banyak juga hunian murah, sehingga buat
orang senang di Bekasi.
Menurut kamu, apa kurangnya Bekasi?
Kurangnya Bekasi itu keadaan jalannya. Sebagai kota industri, mobilitas harus
cepat, misal di Jalan Raya Serang-Cibarusah itu rusak dan sempit, sama jalan
menuju Pemda (Cicau-red.) itu rusak parah juga. Pemda Bekasi melupakan akses
jalan yang penting bagi mobilitas masyarakat maupun industri.
Jika kamu menjadi Bupati Bekasi, apa
yang kamu lakukan? Saya akan memaksimalkan APBD, sehingga
SDM dan SDA dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Ada banyak perbincangan antara
penulis dengan Zikra (18 tahun) di minggu lalu perihal Bekasi (Sabtu, 22/06).
Namun tiga pertanyaan ini mewakili isi hati penulis tentang Bekasi di mata
milenial Bekasi itu sendiri. Dilansir dari Idn.times, Generasi milenial memiliki
ciri-ciri: mengandalkan penggunaan
Teknologi Informasi dan Komunikasi, kritis terhadap fenomena sosial, dan senang
berbagi. Jawaban-jawaban yang diutarakan Zikra menunjukkan ciri bahwa dia
adalah generasi milenial. Zikra kritis dan tanggap terhadap fenomena yang terjadi
di Bekasi. Fenomena-fenomena di sekitar umumnya tidak dipedulikan oleh kita,
namun bagi milenial, itu adalah hal yang harus dikritisi, menjadi keresahan, dan
sudah saatnya diperbaiki.
Jawaban-jawaban
Zikra merupakan opini membangun yang harusnya disampaikan dan kemudian ditindak
lanjuti untuk kemajuan Bekasi dalam rangka menyongsong Generasi Emas 2045. Penulis
mengutip satu bait puisi karya Darmawijaya (28 Desember 1945) yang berjudul Kami
Membangun Pembakaran Bekasi.
. . .
Ketika melihat tani gembira turun ke sawah,
Merencah bencah lumpur subur berair mewah,
Semangat ‘teriak: tuan meroboh-meruntuhkan
Kami mencipta-membangunkan!
Di atas peninggalan tangan kejammu
Kami bangunkan dunia yang baru!
Petikan
Sebait puisi karya Darmawijaya yang dibuat pada 28 Desember 1945. Puisi ini
diciptakan tidak hanya untuk mengenang
pemboman Bekasi kala itu. Petikan puisi ini mewakili harapan, sebuah asa yang
tak pernah padam dari api kemerdekaan untuk kini hingga nanti. Bait puisi ini
adalah semangat untuk warga Bekasi dan generasi penerusnya, yakni remaja untuk
membangun Bekasi yang baru. Pembangunan masa kini difokuskan untuk mencapai cita
– cita Generasi Emas 2045 yang beriringan dengan gema Revolusi Industri 4.0,
maka sudah saatnya Kabupaten Bekasi berbenah diri dalam segi fisik maupun psikis,
hingga tercapai harapan Kabupaten Bekasi Lestari, Demi Ridho Illahi. (Ade Maman Suryaman [AU-022/LKJ3.2019])
sudah lama bpk tidak bersua, sekalinya bersua tulisannya top banget.
BalasHapus