Selasa, 30 Juli 2019

Refleksi 69 Tahun Kabupaten Bekasi bersama Milenial



Penulis selalu ingat, dua hari menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus adalah Hari Jadi Kabupaten Bekasi (15/8). Melihat Plaza Pemerintahan Daerah (Pemda) yang tampak sibuk dengan tenda bernuansa merah-putih, bendera-bendera berwarna, Adik-adik SMA yang menjadi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) berlatih untuk Peringatan Hari Kemerdekaan, hingga acara-acara non-seremonial memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Bekasi dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kabupaten Bekasi adalah satu dari beberapa Kabupaten-Kota yang letaknya berdekatan dengan Ibukota Jakarta. Sehingga, Bekasi memiliki ‘Bonus Demografis’. Hal ini memiliki arti bahwa Bekasi diuntungkan menjadi kota penunjang (satelit) bagi Ibukota Jakarta. Selain itu, dampak kausal ‘bonus’ lokasi Bekasi menyebabkan terjadinya perpindahan arus perekonomian maupun industri dari Jakarta ke Bekasi. Tak ayal, hal ini menyebabkan Bekasi berkembang dari wilayahnya yang sepenuhnya agraris menjadi industri. Sebut saja, Kawasan Industri MM2100, EJIP, Jababeka, Hyundai, Greenland, maupun Pabrik-pabrik yang tidak berlokasi di kawasan-kawasan industri tersebut.
Berkembangnya kawasan Industri di Kabupaten Bekasi memberikan dampak. Dampak ini dirasakan pula secara fisik maupun psikis oleh para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Bagi mereka, Bekasi bukan hanya sekedar tempat lahir, maupun tempat tinggal. Bekasi menjadi tempat mereka bermain, belajar dan mencari jati diri. Sebagai generasi penerus bangsa, khususnya Bekasi.
Siswa SMA yang notabene adalah remaja merupakan pewaris negeri, pemegang tahta bangsa ini. Sehingga, dikenal konsep cita-cita generasi emas 2045. Hal ini bukan hanya sebuah jargon, tetapi juga cita-cita agar remaja kini dapat mewarisi negeri ini dengan kemampuan yang mendunia, namun tidak melupakan asalnya.
Remaja Bekasi pun sudah semestinya menjawab tantangan untuk bersiap menjadi generasi emas 2045. Salah satu cara adalah berpartisipasi membangun Bekasi dengan aktivitas positif, belajar aktif, hingga memiliki kepekaan social. Untuk mengetahui hal tersebut, Penulis pun tergelitik untuk menanyakan kepada Zikra Mulia Irawati (18 tahun), yang akrab dipanggil Zikra seorang remaja tentang Bekasi, tempat tinggalnya.
Mengapa Bekasi menarik untuk kamu? Bekasi itu menariknya karena banyak pabrik, jadi banyak lapangan pekerjaan. Fasilitas lumayan lengkap, transportasi lengkap. Banyak juga hunian murah, sehingga buat orang senang di Bekasi.
Menurut kamu, apa kurangnya Bekasi? Kurangnya Bekasi itu keadaan jalannya. Sebagai kota industri, mobilitas harus cepat, misal di Jalan Raya Serang-Cibarusah itu rusak dan sempit, sama jalan menuju Pemda (Cicau-red.) itu rusak parah juga. Pemda Bekasi melupakan akses jalan yang penting bagi mobilitas masyarakat maupun industri.
Jika kamu menjadi Bupati Bekasi, apa yang kamu lakukan? Saya akan memaksimalkan APBD, sehingga SDM dan SDA dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
            Ada banyak perbincangan antara penulis dengan Zikra (18 tahun) di minggu lalu perihal Bekasi (Sabtu, 22/06). Namun tiga pertanyaan ini mewakili isi hati penulis tentang Bekasi di mata milenial Bekasi itu sendiri. Dilansir dari Idn.times, Generasi milenial memiliki ciri-ciri: mengandalkan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi, kritis terhadap fenomena sosial, dan senang berbagi. Jawaban-jawaban yang diutarakan Zikra menunjukkan ciri bahwa dia adalah generasi milenial. Zikra kritis dan tanggap terhadap fenomena yang terjadi di Bekasi. Fenomena-fenomena di sekitar umumnya tidak dipedulikan oleh kita, namun bagi milenial, itu adalah hal yang harus dikritisi, menjadi keresahan, dan sudah saatnya diperbaiki. 
Jawaban-jawaban Zikra merupakan opini membangun yang harusnya disampaikan dan kemudian ditindak lanjuti untuk kemajuan Bekasi dalam rangka menyongsong Generasi Emas 2045. Penulis mengutip satu bait puisi karya Darmawijaya (28 Desember 1945) yang berjudul Kami Membangun Pembakaran Bekasi.
. . .
Ketika melihat tani gembira turun ke sawah,
Merencah bencah lumpur subur berair mewah,
Semangat ‘teriak: tuan meroboh-meruntuhkan
Kami mencipta-membangunkan!
Di atas peninggalan tangan kejammu
Kami bangunkan dunia yang baru!

Petikan Sebait puisi karya Darmawijaya yang dibuat pada 28 Desember 1945. Puisi ini diciptakan tidak hanya  untuk mengenang pemboman Bekasi kala itu. Petikan puisi ini mewakili harapan, sebuah asa yang tak pernah padam dari api kemerdekaan untuk kini hingga nanti. Bait puisi ini adalah semangat untuk warga Bekasi dan generasi penerusnya, yakni remaja untuk membangun Bekasi yang baru. Pembangunan masa kini difokuskan untuk mencapai cita – cita Generasi Emas 2045 yang beriringan dengan gema Revolusi Industri 4.0, maka sudah saatnya Kabupaten Bekasi berbenah diri dalam segi fisik maupun psikis, hingga tercapai harapan Kabupaten Bekasi Lestari, Demi Ridho Illahi. (Ade Maman Suryaman [AU-022/LKJ3.2019])

1 komentar:

  1. sudah lama bpk tidak bersua, sekalinya bersua tulisannya top banget.

    BalasHapus