A. Pengertian Kaum Puritan
Kaum Puritan merupakan sebutan bagi sekelompok
orang di Inggris yang menganut paham
Puritanisme. Puritanisme berkaitan dengan upaya untuk memurnikan (purify) Gereja Anglikan yang dianggap masih belum menunjukkan
tanda-tanda reformasi yang sejati. Puritanisme adalah sebuah gerakan, bukan
organisasi. Dari semangat yang kuat untuk mereformasi gereja, gerakan ini
selanjutnya memfokuskan diri juga pada reformasi individu dan politik.
B. Karakeristik Gerakan Puritan
(1) Penekanan pada reformasi yang holistik,
baik dalam hal kegerejaan (liturgi dan sistem pemerintahan), teologi, kehidupan
rohani secara pribadi maupun politik.
(2) Pengakuan terhadap kedaulatan Allah yang
mutlak atas segala sesuatu. Reformasi holistik yang diraih berasal dari
keyakinan terhadap kedaulatan Allah yang benar.
(3) Pengakuan dan penekanan pada otoritas
Alkitab. Kaum Puritan hanya melakukan apa yang diajarkan Alkitab, sedangkan
penganut Anglikan bersikap lebih lunak (apa yang tidak dilarang oleh Alkitab
boleh dilakukan).
(4) Keyakinan bahwa keselamatan adalah mutlak
anugerah Allah. Orang berdosa tidak mungkin bisa meresponi panggilan injil
apabila Allah tidak melahirbarukan mereka melalui pekerjaan Roh Kudus.
(5) Perlunya pertumbuhan rohani secara
pribadi. Disiplin rohani merupakan hal yang penting yang seharusnya mengikuti
pertobatan.
Upaya yang dilakukan kaum Puritan untuk
mereformasi Gereja Anglikan, diantaranya adalah melakukan protes terhadap:
- Sistem pemerintahan gereja. Golongan Puritan berusaha mengubah sistem pemerintahan gereja yang episcopal state (pimpinan tertinggi adalah bishop dan raja) menjadi presbyterian (pemimpin tertinggi adalah para penatua) atau congregational (pemimpin tertinggi adalah jemaat). Konsep tentang raja Inggris sebagai pemimpin gereja dipandang sebagai bentuk lain dari kepausan yang berusaha menggabungkan kekuasaan gereja dan politis.
- Liturgi. Kaum Puritan melancarkan protes terhadap pelaksanaan hari raya Kristiani untuk memperingati orang-orang kudus, pemakaian berbagai ornamen yang tidak diajarkan dalam Alkitab, misalnya tanda salib maupun jubah kependetaan. Mereka menolak penghormatan yang berlebihan terhadap materi Perjamuan Kudus yang diindikasikan dengan sikap berlutut pada waktu menerima roti dan anggur. Mereka menentang penggunaan organ dalam ibadah. Pelaksanaan “baptisan darurat” bagi orang yang baru bertobat dalam keadaan sakit parah juga berusaha ditiadakan. Mereka juga menyoroti sikap para penganut Anglikan yang tidak terlalu menekankan penghormatan Hari Sabat.
B. Perkembangan Gerakan Puritan di Inggris
a. Masa Pemerintahan Elizabet I (1558-1603)
Pada masa awal pemerintahan Elizabet, para
penganut reformasi yang dianiaya pada jaman Mary (1553-1558) kembali lagi ke
Inggris setelah sebelumnya meninggalkan Inggris untuk menghindari penyiksaan.
Bersama dengan para penganut reformasi yang lain yang tetap tinggal di Inggris,
mereka sempat menikmati suasana aman. Situasi ini tidak belangsung lama. Mereka
mendapati bahwa “reformasi” yang terjadi belum sampai pada tingkat yang
sesungguhnya. Mereka lalu berusaha untuk mereformasi Gereja Anglikan. Gerakan
yang selanjutnya pada tahun 1560 disebut “Puritan” ini menganggap Gereja
Anglikan masih mewarisi banyak aspek kegerejaan yang masih bernuansa Katholik.
Gerakan Puritan mendapat dukungan semakin
banyak dari masyarakat dan hal ini lambat laun menimbulkan keresahan bagi
pemerintah Inggris. Setelah Elizabet I berhasil mengamankan negara dari
serangan kepausan, maka ia mulai memberikan perhatian serius terhadap
Puritanisme. Pada tahun 1593 dia mengeluarkan peraturan yang memberikan kuasa
kepada pemerintah setempat untuk memenjarakan kaum Puritan apabila mereka
menolak menghadiri ibadah di Gereja Anglikan. Langkah ini terutama ditujukan pada salah satu aliran
dalam Puritanisme yang dengan tegas memisahkan diri dari gereja-negara. Mereka
biasa disebut sebagai Kaum Separatis. Penganut Puritanisme yang lain tetap
berada di dalam Gereja Anglikan dan berusaha mengubah dari dalam.
Respon lain dari pihak Anglikan terhadap
popularitas gerakan Puritan dapat dilihat dari penerbitan buku Treatise of
the Laws of Ecclesiastical Polity yang dikarang oleh Thomas Hooker
(1554-1600). Buku ini merupakan tulisan filosofis-teologis untuk membela konsep
episcopal state. Menurut Hooker,
hukum yang diberikan oleh Allah dan dipahami melalui rasio adalah hal yang
mendasar. Karena pemerintah mengatur rakyat berdasarkan hukum, maka rakyat
sekaligus menjadi bagian dari negara dan gereja. Dengan demikian, baik penduduk
maupun anggota gereja sama-sama di bawah kekuasaan gereja-negara.
b. Masa Pemerintahan Raja James I
Pada
waktu James VI dari Skotlandia akan menggantikan Elizabet sebagai raja Inggris
(di Inggris dia disebut James I), kaum Puritan sangat berharap banyak
kepadanya, karena dia sudah dipengaruhi oleh reformasi Reformed di Skotlandia
yang dipelopori John Knox, salah satu murid Calvin di Geneva. Kaum Puritan
memaparkan permohonan yang ditandatangani oleh hampir 1000 rohaniwan Puritan.
Permohonan yang terkenal dengan sebutan “The Millenary Petition” (1603) ini
merupakan upaya untuk mengubah liturgi dan sistem pemerintahan gereja yang ada.
Akhirnya diadakanlah Hampton Court Conference pada tahun 1604 untuk membicarakan hal
tersebut. James I ternyata sangat menentang usulan tersebut. Menurut dia, presbyterian tidak mungkin sejalan
dengan sistem monarki. Dia bahkan mengancam akan mengeluarkan mereka dari
Kerajaan Inggris apabila mereka bersikukuh pada usulan itu. Satu-satunya hasil
positif dari pertemuan ini hanyalah ijin untuk membuat terjemahan Inggris yang
baru sebagai pengganti dari versi Geneva yang sebelumnya dikerjakan oleh para
penganut reformasi yang dianiaya selama pemerintahan Maria. Terjemahan ini
akhirnya selesai pada tahun 1611 dan dikenal dengan nama Authorized atau King James
Version.
Perbedaan pendapat antara James I dan
Puritan mencakup hal-hal lain di luar sistem pemerintahan gereja. Dalam bidang
politik, muncul perdebatan seputar hakekat kekuasaan raja. Apakah raja diangkat
langsung oleh Allah dan dan dengan demikian hanya perlu bertanggungjawab pada
Allah dan bukan pada parlemen? Siapakah yang lebih berkuasa: raja atau
parlemen? Dalam bidang ekonomi, perdebatan muncul seputar masalah pajak. Apakah
pajak menjadi hak raja atau parlemen? Perbedaan pendapat antara Raja James I
dengan kaum Puritan ini terus berlangsung hingga Inggris diperintah oleh
Charles I.
c. Masa Pemerintahan Charles I (1625-1649)
Pada masa pemerintahan Charles I, hubungan antara
kaum Puritan dengan pemerintah semakin memburuk. Oleh karena itu, tahun
1629-1640 Chales I memutuskan untuk memerintah tanpa parlemen. Tindakan ini
memicu emigrasi besar-besaran dari kaum Puritan ke Amerika. Sedikitnya 20 ribu
orang meninggalkan Inggris. Kesalahan lain yang dilakukan Charles I adalah
memilih William Laud sebagai bishop Canterbury. Dia memaksakan kesamaan
liturgi, sistem pemerintahan dan iman antara Gereja Anglikan dan Gereja
Skotlandia. Tindakan ini direspon dengan keras oleh orang-orang Skotlandia. Di
samping itu, Laud juga memegang teologi Armenian yang sangat bertentangan
dengan keyakinan kaum Puritan maupun orang Kristen Skotlandia.
Semua
ketegangan ini akhirnya memaksa Charles I memanggil kembali parlemen (1640).
Parlemen sepakat memberikan kontribusi dalam pemulihan keadaan. Secara ekonomi
dan politik semua anggota parlemen berhasil mendapatkan kesepakatan, namun dari
sisi keagamaan tetap ada perdebatan. Sebagian tetap memegang sistem gereja yang
lama (disebut kaum Royalis), sedangkan yang lain cenderung pada sistem yang
diusulkan kaum Puritan (disebut kaum Roundhead).
Tiga tahun setelah Charles I memanggil
kembali parlemen, parlemen berhasil meniadakan sistem episkopasi (1643).
Sebagai gantinya mereka memilih 151 kaum Puritan untuk duduk di Westminster
Assembly. Komite ini menyertakan delapan penatua Gereja Skotlandia untuk
memberikan masukan tentang sistem pemerintahan gereja dan teologi. Upaya ini
sebetulnya lebih didasari pada motivasi untuk mempertahankan kemitraan dengan
orang-orang Skotlandia dalam melawan Charles I. Westminster Assembly melakukan
banyak pertemuan intensif untuk menciptakan reformasi yang sejati di Inggris.
Setelah mengadakan ribuan sesi pertemuan, komite ini akhirnya berhasil
merumuskan dan menetapkan beberapa hal penting:
- Directory of Worship (1644).
- Form of Government (1645), disahkan parlemen tahun 1648.
- Westminster Confession of Faith (1646); diterima di Skotlandia tahun 1647 dan di Inggris tahun 1648.
- Longer and Shorter Westminster Catachism (1647).
Semua keberhasilan di atas merupakan
pencapaian yang luar biasa, terutama apabila kita kaitkan dengan sejarah
panjang yang penuh duka yang dialami kaum Puritan pada masa sebelumnya. Tahun
1648 merupakan titik awal reformasi yang sejati di Inggris. Pada masa ini
gereja di Inggris telah mengadopsi teologi, liturgi dan sistem pemerintahan
gereja yang Reformed.
Upaya kaum Royalis dan Charles I untuk
mendominasi kekuasaan mengalami kegagalan. Kaum Royalis keluar dari parlemen.
Charles I dieksekusi tahun 1649. Dengan demikian kaum Puritan di bawah
kepemimpinan Oliver Cromwell dengan kekuataan militer yang solid dan tentara
yang saleh semakin berkuasa. Sisa-sisa kekuasaan raja sudah tidak ada lagi.
Parlemen yang didominasi oleh kaum Puritan benar-benar memegang kendali penuh.
C. Dampak dari Gerakan Puritan
Gerakan ini memang berawal dan berkembang
di Inggris, namun pengaruh yang ditimbulkan melampaui batasan waktu dan tempat,
diantaranya yaitu:
- Gerakan Puritan memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan kekristenan di Amerika. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, ribuan orang Puritan meninggalkan Inggris dan menetap di Amerika. Di sana mereka telah memberikan pengaruh yang sangat menentukan bagi peradaban Amerika untuk jangka waktu yang lama. Kebudayaan, politik, pendidikan, sosial, ekonomi maupun politik Amerika sangat ditentukan oleh warisan kaum Puritan.
- Tradisi Reformed di seluruh dunia. rumusan yang dihasilkan oleh Westminster Assembly, tulisan Owen, Baxter, Aime dan tokoh lain telah mempengaruhi para pemikir Reformed yang lain. Semua karya tulis ini tetap menjadi patokan dalam tradisi Reformed.
- Pengaruh dalam bidang literatur. Para tokoh Puritan bukan hanya handal dalam menghasilkan karya tulis teologi yang hebat. Tulisan mereka juga berjumlah sangat banyak. Sebagian dari tulisan ini tetap menjadi acuan dalam studi literatur, misalnya Pilgrim’s Progress dan Paradise Lost.
- Hasil maksimal dari pemerintahan teokratis di dunia. Apa yang telah diupayakan oleh kaum Puritan di Inggris maupun di Amerika memberikan gambaran tentang keindahan dunia yang dipengaruhi oleh prinsip Kristiani. Mereka telah mengupaykan integrasi yang konkrit antara teologi dan bidang-bidang kehidupan yang lain. Pencapaian yang diraih menjadi cermin bagi kita untuk melihat dua hal: (1) bahwa dunia ini bisa menjadi lebih baik jika dinafasi oleh prinsip Alkitab; (2) bahwa dunia ini tidak akan pernah sempurna, karena telah rusak oleh dosa.
- Edukasi di Inggris. Kaum Puritan adalah pelopor dunia pendidikan di Inggris. Ketika banyak orang berfokus pada pekerjaan, mereka mulai menekankan pentingnya pendidikan. Mereka mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak dan universitas. Mereka membuat pusat penerbitan dan menghasilkan ratusan buku yang sangat mempengaruhi Inggris.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan mengenai reformasi Gereja
Anglikan oleh kaum Puritan di Inggris, maka dapat saya tarik suatu kesimpulan
bahwa kaum Puritan itu merupakan suatu gerakan yang memiliki ambisi untuk
melakukan reformasi terhadap Gereja Anglikan. Adapun alasan kaum Puritan
melakukan reformasi adalah untuk mengembalikan kesucian Gereja Anglikan
yang dianggapnya masih sarat dengan
pengaruh Gereja Katolik Roma.
Karakteristik
dari gerakan kaum Puritan ini sendiri pada dasarnya menentang sistem
pemerintahan gereja yang episcopal state
di Inggris, yaitu suatu konsep tentang raja Inggris sebagai pemimpin gereja.
Hal ini dipandang sebagai bentuk lain dari kepausan yang berusaha menggabungkan
kekuasaan gereja dan politis. Selain itu juga protesnya berkaitan dengan liturgi, yaitu protes terhadap
pelaksanaan hari raya Kristiani untuk memperingati orang-orang kudus, pemakaian
berbagai ornamen yang tidak diajarkan dalam Alkitab, dan sebagainya.
Perkembangan
gerakan Kum Puritan ini terbagi ke dalam beberapa masa, yaitu masa ketika
Inggris diperintah oleh Ratu Elizabeth I, dimana pada masa ini Ratu Elizabeth I
memberlakukan suatu peraturan untuk memenjarakan kaum Puritan yang menolak
beribadah di Gereja Anglikan. Pada masa Raja James I, penolakan terhadap kaum
Puritan semakin kuat. Sedangkan gerakan kaum Puritan pada masa Raja Charles I
mencapai suatu keberhasilan yang luar biasa setelah melakukan beberapa kali
perundingan. Pada masa ini gereja di Inggris telah mengadopsi teologi, liturgi
dan sistem pemerintahan gereja yang Reformed.
Jika
saya analisis, sebenarnya kemunculan kaum Puritan ini sendiri merupakan suatu
dampak dari adanya protestanisme yang
berkembang di Inggris setelah memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma dan
mendirikan suatu Gereja tersendiri sebagai kiblat orang Inggris yaitu Gereja
Anglkkan. Namun dalam perkembangannya, Gereja Anglikan ini masih didominasi
oleh pengaruh Gereja Katolik Roma. Maka dengan itu muncullah kaum Puritan yang
mencoba mengembalikan kesucian Gereja Anglikan, lepas dari berbagai pengaruh
kepausan di Roma.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku:
Drs. Nana Supriatna, M. Ed. (2002). Sejarah Bangsa Amerika: Bahan Kuliah Sejarah
Amerika Jilid I. Bandung: Pendidikan Sejarah UPI.
Sumber internet:
Dr. Eddy Peter Purwanto. (1999). Siapakah
Kaum Puritan Itu?. [Online]. Tersedia: http://www.sttip.com/puritans%20introduction.htm.
[24 Maret 2009].
Ramadhan Adi Putra. (2008). Kaum Puritan Abad 16.
[Online]. Tersedia: http://ramadhan-adiputra.blog.friendster.com/2008/05/kaum-puritan-abad-16-pendahuluan/.
[24 Maret 2009].
Yakub Tri Handoko. (2009). Sejarah Reformasi Gereja
(Bagian-&):Reformasi Di Inggris (Puritan). [Online]. Tersedia: http://www.gkri-exodus.org/page.php?HIS-Reformasi7.
[24 Maret 2009].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar