Minggu, 13 Januari 2013

Gerakan Kaum Puritan di Inggris dalam Reformasi Gereja Anglikan

                                                                       Oleh Lia Meliani



A. Pengertian Kaum Puritan
            Kaum Puritan merupakan sebutan bagi sekelompok orang di Inggris yang menganut paham Puritanisme. Puritanisme berkaitan dengan upaya untuk memurnikan (purify) Gereja Anglikan yang dianggap masih belum menunjukkan tanda-tanda reformasi yang sejati. Puritanisme adalah sebuah gerakan, bukan organisasi. Dari semangat yang kuat untuk mereformasi gereja, gerakan ini selanjutnya memfokuskan diri juga pada reformasi individu dan politik.

B. Karakeristik Gerakan Puritan
(1)  Penekanan pada reformasi yang holistik, baik dalam hal kegerejaan (liturgi dan sistem pemerintahan), teologi, kehidupan rohani secara pribadi maupun politik.
(2)  Pengakuan terhadap kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu. Reformasi holistik yang diraih berasal dari keyakinan terhadap kedaulatan Allah yang benar.
(3)  Pengakuan dan penekanan pada otoritas Alkitab. Kaum Puritan hanya melakukan apa yang diajarkan Alkitab, sedangkan penganut Anglikan bersikap lebih lunak (apa yang tidak dilarang oleh Alkitab boleh dilakukan).
(4)  Keyakinan bahwa keselamatan adalah mutlak anugerah Allah. Orang berdosa tidak mungkin bisa meresponi panggilan injil apabila Allah tidak melahirbarukan mereka melalui pekerjaan Roh Kudus.
(5)  Perlunya pertumbuhan rohani secara pribadi. Disiplin rohani merupakan hal yang penting yang seharusnya mengikuti pertobatan.
Upaya yang dilakukan kaum Puritan untuk mereformasi Gereja Anglikan, diantaranya adalah melakukan protes terhadap:
  1. Sistem pemerintahan gereja. Golongan Puritan berusaha mengubah sistem pemerintahan gereja yang episcopal state (pimpinan tertinggi adalah bishop dan raja) menjadi presbyterian (pemimpin tertinggi adalah para penatua) atau congregational (pemimpin tertinggi adalah jemaat). Konsep tentang raja Inggris sebagai pemimpin gereja dipandang sebagai bentuk lain dari kepausan yang berusaha menggabungkan kekuasaan gereja dan politis.
  2. Liturgi. Kaum Puritan melancarkan protes terhadap pelaksanaan hari raya Kristiani untuk memperingati orang-orang kudus, pemakaian berbagai ornamen yang tidak diajarkan dalam Alkitab, misalnya tanda salib maupun jubah kependetaan. Mereka menolak penghormatan yang berlebihan terhadap materi Perjamuan Kudus yang diindikasikan dengan sikap berlutut pada waktu menerima roti dan anggur. Mereka menentang penggunaan organ dalam ibadah. Pelaksanaan “baptisan darurat” bagi orang yang baru bertobat dalam keadaan sakit parah juga berusaha ditiadakan. Mereka juga menyoroti sikap para penganut Anglikan yang tidak terlalu menekankan penghormatan Hari Sabat.    

B. Perkembangan Gerakan Puritan di Inggris
a. Masa Pemerintahan Elizabet I (1558-1603)
Pada masa awal pemerintahan Elizabet, para penganut reformasi yang dianiaya pada jaman Mary (1553-1558) kembali lagi ke Inggris setelah sebelumnya meninggalkan Inggris untuk menghindari penyiksaan. Bersama dengan para penganut reformasi yang lain yang tetap tinggal di Inggris, mereka sempat menikmati suasana aman. Situasi ini tidak belangsung lama. Mereka mendapati bahwa “reformasi” yang terjadi belum sampai pada tingkat yang sesungguhnya. Mereka lalu berusaha untuk mereformasi Gereja Anglikan. Gerakan yang selanjutnya pada tahun 1560 disebut “Puritan” ini menganggap Gereja Anglikan masih mewarisi banyak aspek kegerejaan yang masih bernuansa Katholik.
Gerakan Puritan mendapat dukungan semakin banyak dari masyarakat dan hal ini lambat laun menimbulkan keresahan bagi pemerintah Inggris. Setelah Elizabet I berhasil mengamankan negara dari serangan kepausan, maka ia mulai memberikan perhatian serius terhadap Puritanisme. Pada tahun 1593 dia mengeluarkan peraturan yang memberikan kuasa kepada pemerintah setempat untuk memenjarakan kaum Puritan apabila mereka menolak menghadiri ibadah di Gereja Anglikan. Langkah ini terutama ditujukan pada salah satu aliran dalam Puritanisme yang dengan tegas memisahkan diri dari gereja-negara. Mereka biasa disebut sebagai Kaum Separatis. Penganut Puritanisme yang lain tetap berada di dalam Gereja Anglikan dan berusaha mengubah dari dalam.
Respon lain dari pihak Anglikan terhadap popularitas gerakan Puritan dapat dilihat dari penerbitan buku Treatise of the Laws of Ecclesiastical Polity yang dikarang oleh Thomas Hooker (1554-1600). Buku ini merupakan tulisan filosofis-teologis untuk membela konsep episcopal state. Menurut Hooker, hukum yang diberikan oleh Allah dan dipahami melalui rasio adalah hal yang mendasar. Karena pemerintah mengatur rakyat berdasarkan hukum, maka rakyat sekaligus menjadi bagian dari negara dan gereja. Dengan demikian, baik penduduk maupun anggota gereja sama-sama di bawah kekuasaan gereja-negara.

b. Masa Pemerintahan Raja James I
            Pada waktu James VI dari Skotlandia akan menggantikan Elizabet sebagai raja Inggris (di Inggris dia disebut James I), kaum Puritan sangat berharap banyak kepadanya, karena dia sudah dipengaruhi oleh reformasi Reformed di Skotlandia yang dipelopori John Knox, salah satu murid Calvin di Geneva. Kaum Puritan memaparkan permohonan yang ditandatangani oleh hampir 1000 rohaniwan Puritan. Permohonan yang terkenal dengan sebutan “The Millenary Petition” (1603) ini merupakan upaya untuk mengubah liturgi dan sistem pemerintahan gereja yang ada.
Akhirnya diadakanlah Hampton Court Conference pada tahun 1604 untuk membicarakan hal tersebut. James I ternyata sangat menentang usulan tersebut. Menurut dia, presbyterian tidak mungkin sejalan dengan sistem monarki. Dia bahkan mengancam akan mengeluarkan mereka dari Kerajaan Inggris apabila mereka bersikukuh pada usulan itu. Satu-satunya hasil positif dari pertemuan ini hanyalah ijin untuk membuat terjemahan Inggris yang baru sebagai pengganti dari versi Geneva yang sebelumnya dikerjakan oleh para penganut reformasi yang dianiaya selama pemerintahan Maria. Terjemahan ini akhirnya selesai pada tahun 1611 dan dikenal dengan nama Authorized atau King James Version.
Perbedaan pendapat antara James I dan Puritan mencakup hal-hal lain di luar sistem pemerintahan gereja. Dalam bidang politik, muncul perdebatan seputar hakekat kekuasaan raja. Apakah raja diangkat langsung oleh Allah dan dan dengan demikian hanya perlu bertanggungjawab pada Allah dan bukan pada parlemen? Siapakah yang lebih berkuasa: raja atau parlemen? Dalam bidang ekonomi, perdebatan muncul seputar masalah pajak. Apakah pajak menjadi hak raja atau parlemen? Perbedaan pendapat antara Raja James I dengan kaum Puritan ini terus berlangsung hingga Inggris diperintah oleh Charles I.

c. Masa Pemerintahan Charles I (1625-1649)
            Pada masa pemerintahan Charles I, hubungan antara kaum Puritan dengan pemerintah semakin memburuk. Oleh karena itu, tahun 1629-1640 Chales I memutuskan untuk memerintah tanpa parlemen. Tindakan ini memicu emigrasi besar-besaran dari kaum Puritan ke Amerika. Sedikitnya 20 ribu orang meninggalkan Inggris. Kesalahan lain yang dilakukan Charles I adalah memilih William Laud sebagai bishop Canterbury. Dia memaksakan kesamaan liturgi, sistem pemerintahan dan iman antara Gereja Anglikan dan Gereja Skotlandia. Tindakan ini direspon dengan keras oleh orang-orang Skotlandia. Di samping itu, Laud juga memegang teologi Armenian yang sangat bertentangan dengan keyakinan kaum Puritan maupun orang Kristen Skotlandia.
            Semua ketegangan ini akhirnya memaksa Charles I memanggil kembali parlemen (1640). Parlemen sepakat memberikan kontribusi dalam pemulihan keadaan. Secara ekonomi dan politik semua anggota parlemen berhasil mendapatkan kesepakatan, namun dari sisi keagamaan tetap ada perdebatan. Sebagian tetap memegang sistem gereja yang lama (disebut kaum Royalis), sedangkan yang lain cenderung pada sistem yang diusulkan kaum Puritan (disebut kaum Roundhead).
Tiga tahun setelah Charles I memanggil kembali parlemen, parlemen berhasil meniadakan sistem episkopasi (1643). Sebagai gantinya mereka memilih 151 kaum Puritan untuk duduk di Westminster Assembly. Komite ini menyertakan delapan penatua Gereja Skotlandia untuk memberikan masukan tentang sistem pemerintahan gereja dan teologi. Upaya ini sebetulnya lebih didasari pada motivasi untuk mempertahankan kemitraan dengan orang-orang Skotlandia dalam melawan Charles I. Westminster Assembly melakukan banyak pertemuan intensif untuk menciptakan reformasi yang sejati di Inggris. Setelah mengadakan ribuan sesi pertemuan, komite ini akhirnya berhasil merumuskan dan menetapkan beberapa hal penting:
  • Directory of Worship (1644).
  • Form of Government (1645), disahkan parlemen tahun 1648.
  • Westminster Confession of Faith (1646); diterima di Skotlandia tahun 1647 dan di Inggris tahun 1648.
  • Longer and Shorter Westminster Catachism (1647).
Semua keberhasilan di atas merupakan pencapaian yang luar biasa, terutama apabila kita kaitkan dengan sejarah panjang yang penuh duka yang dialami kaum Puritan pada masa sebelumnya. Tahun 1648 merupakan titik awal reformasi yang sejati di Inggris. Pada masa ini gereja di Inggris telah mengadopsi teologi, liturgi dan sistem pemerintahan gereja yang Reformed.
Upaya kaum Royalis dan Charles I untuk mendominasi kekuasaan mengalami kegagalan. Kaum Royalis keluar dari parlemen. Charles I dieksekusi tahun 1649. Dengan demikian kaum Puritan di bawah kepemimpinan Oliver Cromwell dengan kekuataan militer yang solid dan tentara yang saleh semakin berkuasa. Sisa-sisa kekuasaan raja sudah tidak ada lagi. Parlemen yang didominasi oleh kaum Puritan benar-benar memegang kendali penuh.

C. Dampak dari Gerakan Puritan
Gerakan ini memang berawal dan berkembang di Inggris, namun pengaruh yang ditimbulkan melampaui batasan waktu dan tempat, diantaranya yaitu:
  1. Gerakan Puritan memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan kekristenan di Amerika. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, ribuan orang Puritan meninggalkan Inggris dan menetap di Amerika. Di sana mereka telah memberikan pengaruh yang sangat menentukan bagi peradaban Amerika untuk jangka waktu yang lama. Kebudayaan, politik, pendidikan, sosial, ekonomi maupun politik Amerika sangat ditentukan oleh warisan kaum Puritan.
  2. Tradisi Reformed di seluruh dunia. rumusan yang dihasilkan oleh Westminster Assembly, tulisan Owen, Baxter, Aime dan tokoh lain telah mempengaruhi para pemikir Reformed yang lain. Semua karya tulis ini tetap menjadi patokan dalam tradisi Reformed.
  3. Pengaruh dalam bidang literatur. Para tokoh Puritan bukan hanya handal dalam menghasilkan karya tulis teologi yang hebat. Tulisan mereka juga berjumlah sangat banyak. Sebagian dari tulisan ini tetap menjadi acuan dalam studi literatur, misalnya Pilgrim’s Progress dan Paradise Lost.
  4. Hasil maksimal dari pemerintahan teokratis di dunia. Apa yang telah diupayakan oleh kaum Puritan di Inggris maupun di Amerika memberikan gambaran tentang keindahan dunia yang dipengaruhi oleh prinsip Kristiani. Mereka telah mengupaykan integrasi yang konkrit antara teologi dan bidang-bidang kehidupan yang lain. Pencapaian yang diraih menjadi cermin bagi kita untuk melihat dua hal: (1) bahwa dunia ini bisa menjadi lebih baik jika dinafasi oleh prinsip Alkitab; (2) bahwa dunia ini tidak akan pernah sempurna, karena telah rusak oleh dosa.
  5. Edukasi di Inggris. Kaum Puritan adalah pelopor dunia pendidikan di Inggris. Ketika banyak orang berfokus pada pekerjaan, mereka mulai menekankan pentingnya pendidikan. Mereka mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak dan universitas. Mereka membuat pusat penerbitan dan menghasilkan ratusan buku yang sangat mempengaruhi Inggris.





KESIMPULAN

            Berdasarkan pembahasan mengenai reformasi Gereja Anglikan oleh kaum Puritan di Inggris, maka dapat saya tarik suatu kesimpulan bahwa kaum Puritan itu merupakan suatu gerakan yang memiliki ambisi untuk melakukan reformasi terhadap Gereja Anglikan. Adapun alasan kaum Puritan melakukan reformasi adalah untuk mengembalikan kesucian Gereja Anglikan yang  dianggapnya masih sarat dengan pengaruh Gereja Katolik Roma.
            Karakteristik dari gerakan kaum Puritan ini sendiri pada dasarnya menentang sistem pemerintahan gereja yang episcopal state di Inggris, yaitu suatu konsep tentang raja Inggris sebagai pemimpin gereja. Hal ini dipandang sebagai bentuk lain dari kepausan yang berusaha menggabungkan kekuasaan gereja dan politis. Selain itu juga protesnya berkaitan dengan liturgi, yaitu protes terhadap pelaksanaan hari raya Kristiani untuk memperingati orang-orang kudus, pemakaian berbagai ornamen yang tidak diajarkan dalam Alkitab, dan sebagainya.
            Perkembangan gerakan Kum Puritan ini terbagi ke dalam beberapa masa, yaitu masa ketika Inggris diperintah oleh Ratu Elizabeth I, dimana pada masa ini Ratu Elizabeth I memberlakukan suatu peraturan untuk memenjarakan kaum Puritan yang menolak beribadah di Gereja Anglikan. Pada masa Raja James I, penolakan terhadap kaum Puritan semakin kuat. Sedangkan gerakan kaum Puritan pada masa Raja Charles I mencapai suatu keberhasilan yang luar biasa setelah melakukan beberapa kali perundingan. Pada masa ini gereja di Inggris telah mengadopsi teologi, liturgi dan sistem pemerintahan gereja yang Reformed.
            Jika saya analisis, sebenarnya kemunculan kaum Puritan ini sendiri merupakan suatu dampak dari adanya protestanisme yang berkembang di Inggris setelah memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma dan mendirikan suatu Gereja tersendiri sebagai kiblat orang Inggris yaitu Gereja Anglkkan. Namun dalam perkembangannya, Gereja Anglikan ini masih didominasi oleh pengaruh Gereja Katolik Roma. Maka dengan itu muncullah kaum Puritan yang mencoba mengembalikan kesucian Gereja Anglikan, lepas dari berbagai pengaruh kepausan di Roma.
           

























DAFTAR PUSTAKA


Sumber buku:
Drs. Nana Supriatna, M. Ed. (2002). Sejarah Bangsa Amerika: Bahan Kuliah Sejarah Amerika Jilid I. Bandung: Pendidikan Sejarah UPI.

Sumber internet:
Dr. Eddy Peter Purwanto. (1999). Siapakah Kaum Puritan Itu?. [Online]. Tersedia:  http://www.sttip.com/puritans%20introduction.htm. [24 Maret 2009].

Ramadhan Adi Putra. (2008). Kaum Puritan Abad 16. [Online]. Tersedia:  http://ramadhan-adiputra.blog.friendster.com/2008/05/kaum-puritan-abad-16-pendahuluan/. [24 Maret 2009].

Yakub Tri Handoko. (2009). Sejarah Reformasi Gereja (Bagian-&):Reformasi Di Inggris (Puritan).  [Online]. Tersedia: http://www.gkri-exodus.org/page.php?HIS-Reformasi7. [24 Maret 2009].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar